Marba Semarang

Gedung Marba merupakan salah satu gedung peninggalan kolonial Belanda di Semarang. Gedung Mraba adalah gedung yang terletak di salah satu sudut dari Kota Lama Semarang tepatnya berada di seberang Taman Srigunting di Jl. Let. Jend. Suprapto No. 33 Semarang Jawa Tengah. Gedung Marba di ketahui di bangun pada abad ke XIX, yang memiliki 2 lantai bangunan. Tebal dinding dari bangunan ini kurang lebih 20 cm


Bangunan ini di bangun dengan di prakarsai oleh Marta Badjunet, yaitu seorang warga negara Yaman. Marta Badjunet adalah seorang saudagar kaya pada jaman itu. Kemudian untuk mengenang jasanya bangunan kuno ini di namai dari singkatan namanya yang di sebut Marba. Dulunya gedung ini di fungsikan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut / EMKL. Selain itu gedung ini juga di gunakan untuk toko yang modern dan merupakan toko modern satu – satunya pada saat itu, De Zeikel.

DE JAVASCHE SAKSI BISU PEMERINTAHAN BELANDA

Ketika itu aku sedang berkeliling ke kota tua padang.Aku melihat sebuah bangunan tua yang masih terawat di dekat jembatan siti nurbaya,karena unik dan mempunyai history aku sempatkan untuk berhenti dan melihat-lihat gedung tersebut dan   mendokumentasikan gedung yang bertuliskan Bank Indonesia.
Padang, adalah bangunan yang dulunya berfungsi sebagai bank yang terletak di Jalan Batang Arau,Kecamatan padang barat, kta padang, Sumatera barat. Bangunan ini dibangun pada 31 Maret 1921 dan pertama kali digunakan sebagai kantor cabang De Javasche Bank sebelum diambil alih oleh Bank Indnesia (BI) pada 1 Juli 1953. Gedung ini terletak di dekat pinggang Jembatan siti nurbaya, sebuah jembatan yang dibangun melintasi sungai Batang Arau.



Selesai dikerjakan pada tahun 1925, bangunan ini segera menjadi kantor baru De Javasche Bank, menggantikan kantor lama di Jalan Nipah (dekat Pantai Padang). Lokasinya terletak di Jalan Batang Arau, yang pada zaman Hindia Belanda merupakan kawasan pusat perkantoran, perdagangan, dan militer di Padang. Di jalan ini berdiri berderet bangunan-bangunan tua bekas kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang peninggalan VOC.
Pada tahun 1998, bangunan ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya bersama beberapa bangunan bersejarah lainnya yang menjadi saksi bisu jejak kolonial yang tertinggal di Padang.
Pada tahun 1864, De Javasche bank resmi membuka kantor cabang di Padang. Inilah kantor cabang De Javasche Bank yang ketiga di Hindia Belanda setelah Semarang dan Surabaya, atau yang pertama di luar Pulau Jawa.
Hadirnya kantor cabang De Javashce Bank di Padang terealisasi berkat permohonan Kamer van Koophandel en Nijverheid (Kamar Dagang dan Industri) Kota Padang kepada Pemerintah Pusat dan Direktur De Javasche Bank di Batavia (sekarang Jakarta). Hal ini menunjukkan pentingnya kota ini sebagai pintu utama perdagangan dan keuangan di Sumatera.
Dikerjakan oleh kontraktor Hulswitt-Fermont-Cuypers Architechten & Engineeren Beureau dari Batavia, arsitektur bangunan ini sedikit mengambil gaya rumah pendopo jawa.
Pintu-pintunya dibuat lebar dan tinggi bergaya Eropa, dan puncak atapnya berbentuk seperti kubah masjid. Di depannya ada sebuah monumen berupa tugu kecil yang dibangun untuk mengenang Ir.Willem Hendrik De Greve, ahli pertambangan Belanda yang mati hanyut ketika melakukan penelitian di Batang Kuantan pada tahun 1872. Ini karena areal tempat gedung ini dibangun berada di kawasan Taman De Greve, dan salah satu dermaga di Pelabuhan Muara diberi
nama De Grevekade.Di tempat bekas lokasi Monumen De Greve saat ini berdiri jembatan siti nurbaya. Jembatan ini membentang sepanjang 156 meter di atas sungai Batang Arau menghubungkan kawasan Muara dengan kawasan Seberang Padang dan Gunung Padang

 

4 tahun Indonesia Kreatif

 

P_20181130_084211.jpg4 tahun Indonesia Kreatif,Generasi Muda yang Kreatif

Kalo berbicara tentang internet siapa sih gak tau atau siapa yang gak pakai internet kan? jaman sekarang gak pakai internet rasa nya jadul banget,karena kita semua punya smartphone dari yang biasa sampai yang canggih.apalagi kalo bicara media sosial pasti semua memilikinya,Terkadang media sosial itu asyik banyak pengetahuan,tambah teman baru dan ada juga yang tidak enak karena banyak berita hoax dan ribut antar status media sosial.

Generasi Muda yang Kreatif

Ketika acara sudah di mulai dan kata sambutan dalam acara flash blogging, pada tanggal 30 November 2018 di selenggarakan di Hotel Mercure Padang.Direktorat Pengelola Penyedia Informasi. Dra.Siti Miningsih M,Sc.berkata flash blogging adalah wadah para ajang untuk anak muda yang kreatifitas.Menciptakan generasi muda yang menjunjungi tinggi nilai moral,religius dan optimis untuk lebih baik lagi.dan menjadi pengguna media sosial yang sehat dan terciptanya Generasi Positive Thingking.

Kamu Mau Jadi Apa?

-Peduli : Membantu Orang Lain

-Kreator : Start Up Menu

-Pahlawan :Atlet dan Timsar

-Orang Biasa : Pekerja Keras

-Cendikiawan: Pendidikan dan ilmu

-Explore :Jalan -Jalan dan Pecinta Alam

 

 

 

 

 

My Name is Adith.

Halo perkenalkan aku Ahadita Meindra Widyata bisa di panggil Dimas atau Adith.Dan nama aku juga ada artinya seperti Ahadita Meindra Widyata yang ahadita berarti Ahad hari minggu,Meindra berarti lahir bulan mei dan widyata yang ini berasal dari bahasa sangsakerta.

Saya lahir di Padang 26 Mei 1991 dan aku sebenarnya asli jawa,karena simbah aku dulunya transmigrasi ke sumatera barat jaman soeharto.Aku sering bercerita dengan si mbah tentang apa saja tapi lebih kepada sejarah karena sangat menyukai sejarah mau sejarah kolonial,sejarah kerajaan,sejarah masakan dan lain-lain.

Aku mempunyai hobby yang unik yaitu mengoleksi sepeda tua,streetphotography dan koleksi barang-barang yang jadul atau antik.gak tau kenapa kalo aku lebih suka aja barang antik mungkin karena unik bentuknya dan punya histori aja. Mungkin dulu waktu aku kecil sering di ceritakan sejarah kerajaan dan sering di bawa ke candi kalo pulang ke jawa.

entah kenapa aku suka sekali dengan sejarah padahal aku kuliah jurusan sistem informasi,dan gak ada sangakut paut nya dengan sejarah.sebenarnya itu bukan pilihan ku,tapi aku karena ikuti perintah orang tuaku.dulu aku pernah ingin mengambil jurusan arkeolog,tapi orang tua gak setuju, jadi aku jalanin aja sampai aku wisuda.

Kini aku hanya ingin menikmati perjalanan hidupku dengan Ransel Petualang , berkunjung ke museum dan ke candi ingin mengembalikan harapan menjadi arkeolog atau menjadi koki,menurut aku sejarah adalah realita dan nyata tidak seperti teknologi harus riset dulu baru jadi sempurna.

Dan ingin menjadi koki atau chef karena hobi masak dan ingin mempelajari dunia kitchen.makanya kali ini aku keluar dari zona nyaman sarjana sistem informasi dan beralih pindah ke dunia kitchen,karena nyaman aja bisa kerja di dapur selalu bisa komunikasi dengan orang banyak dan mengenal masakan nusantara,westren,oriental dan kontinental.

Walaupun proses nya panjang harus terus belajar dari nol,karena itu adalah konsekuensi saya sejak pertama pindah ke kitchen sampai di cuekin,sepelekan dan di marahin.harus kuat sampai kapan pun ya begitu lah di kitchen